Daftar Provider Operator Yang Support 5G

daftar operator yang support 5g

  

Daftar Provider Operator Yang Support 5G - Pada Juli tahun 2021, XL Axiata berencana memperoleh SKLO (Surat Keterangan Laik Operasi) untuk layanan 5G setelah dua operator lainnya yakni Telkomsel dan Indosat Ooredoo. Tiga operator teratas akan bersaing memperebutkan pasar untuk "menjual" 5G, tetapi mereka menggunakan teknologi yang berbeda.

Daftar Operator Sim Card Yang Support 5G :

  • Telkomsel
  • Indosat
  • Xl axiata

Nantikan update selanjutnya

 

Telkomsel menggunakan spektrum wide n40 (2,3 GHz) 30 MHz, kemudian ditingkatkan menjadi 50 MHz, didedikasikan untuk 5G, tanpa dekorasi teknis lainnya. Hasil yang sangat baik, kapasitas unduh 750Mbps, bahkan dalam kondisi alami, rata-rata hanya antara 100Mbps dan 250Mbps.

Baik Indosat Ooredoo maupun XL Axiata tidak memiliki spektrum 2,3 Ghz seperti Telkomsel. Mereka hanya memiliki 850 MHz, 1800 MHz (1,8 GHz) dan 2,1 GHz, dan Telkomsel juga memilikinya.

 

Indosat bekerjasama dengan Cisco untuk menyediakan teknologi yang belum pernah digunakan di Asia Tenggara yaitu segmen routing IPv6 (SRv6) dengan network cutoff. Indosat menggunakan pita lebar 20 MHz dalam spektrum 1800 MHz (n3), yang menimbulkan risiko.

Dalam spektrum ini, Indosat hanya menguasai bandwidth 22,5 MHz yang sebenarnya telah ditempati oleh 60 juta pengguna 4G-nya. Tetapi teknologi SRv6 bahkan lebih baik, dengan kapasitas unduh hingga 540Mbps dan penundaan (waktu transmisi data dari awal hingga akhir adalah milidetik) hingga 10ms.  Angka ini cukup tinggi, apalagi jika fokusnya pada layanan industri, UMKM, dan IoT (Internet of things).

Modulasi amplitudo

XL Axiata tampaknya akan menggunakan teknologi lain, DSS (Dynamic Spectrum Sharing) di mid band atau di mid wave. Teknologi ini berbeda dengan CA (Carrier Aggregation) yang digunakan pada layanan 4G, yang menggabungkan dua frekuensi yang sama untuk mendapatkan kapasitas yang lebih tinggi.

Menurut Gede Dharmayusa, Network Director XL Axiata, 4G5G DSS menggunakan spektrum yang sama untuk dua teknologi yang berbeda, 4G dan 5G. T

ujuannya adalah untuk menggunakan spektrum yang ada untuk mempercepat penyebaran dan penetrasi 5G, yang masih digunakan di 4G. Karena sumber spektrum yang digunakan dibagi antara 4G dan 5G, DSS tentu saja tidak dapat memberikan pengalaman 5G yang sesungguhnya.

DSS dipandang sebagai promotor pengenalan teknologi 5G kepada pengguna.. Kecepatan yang dapat diperoleh tergantung pada kondisi lalu lintas jaringan.

Namun secara teoritis, melalui modulasi 20Mhz dan 256 QAM (quadrature amplitude modulation, skema yang membawa data modulasi/perubahan amplitudo dua operator, throughput maksimum dapat mencapai 260Mbps. Untuk layanan 5G, XL Axiata akan menggunakan spektrum 1800 MHz untuk DSS dan 2100 MHz digunakan untuk anchor point 4G LTE.

XL Axiata telah menunjukkan kemampuan 5G teknologi ini dalam uji coba pada Desember tahun lalu. Oleh karena itu, jika pemerintah merilis spektrum terbaik untuk mengimplementasikan 5G, operator akan menyediakan Layanan 5G terbesar yang bisa memenuhi persyaratan cakupan dan kapasitas Spektrum frekuensi menengah, seperti 3,5 GHz, adalah salah satu pita frekuensi terbaik untuk 5G.

Karena cakupannya hampir sama dengan spektrum LTE saat ini (2100 MHz dan 1800 MHz) dan memiliki pita frekuensi yang cukup lebar, spektrum tersebut dapat memenuhi persyaratan cakupan dan kapasitas.

Biaya sosial tinggi

Operator juga berharap pemerintah dapat merilis spektrum 2600MHz lebar 190MHz, 150MHz yang masih dikuasai oleh grup siaran TV analog, dan lisensinya tidak akan berakhir hingga tahun 2025.

Tahun ini pemerintah dapat melelang atau menggunakan berbagai spektrum kontes  lebar 700 MHz 90 MHz, 26 GHz dan 35 GHz lebar 1000 MHz. Namun, tingginya investasi pada pita frekuensi gelombang milimeter dengan spektrum di atas 6GHz tidak serta merta membuat operator kelas menengah bersedia mengikuti lelang tersebut.

Operator saat ini berinvestasi sangat tinggi dalam layanan 5G, jika mereka terus membangun jaringan mereka sendiri, BTS mereka sendiri, dan membangun serat optik (FO-optical fiber). Tidak ada kewajiban untuk membangun jaringan FO yang akan menembus zona ekonomi padat, dan tidak mungkin untuk melayani 5G.

Seperti kawasan industri, perkantoran, dll, juga terdapat jaringan transportasi perkotaan, perkebunan, dan peternakan. Jika semua pedagang saling terbuka, biaya investasi (capital expenditure-capital expenditure) sebenarnya bisa ditekan. Misalnya, jika Telkom memiliki jaringan FO lebih dari 100.000 kilometer dan menyewakan sebagian dari kapasitas FO-nya, maka biaya sosialnya akan sangat rendah.

 

Di area yang hanya dimiliki oleh FO atau Smartfren/Moratel milik XL Axiata, operator lain tidak perlu membangunnya, cukup menyewakannya. Selain itu, di kawasan perkotaan yang padat komersial, perlu dibangun BTS dalam jarak 200 meter, yang dapat digantikan oleh jaringan FO yang juga dapat digunakan sebagai BTS.

Arogansi superioritas, ditambah dengan ketakutan penyewa bahwa mereka akan lebih unggul, membuat pemilik infrastruktur BTS dan FO enggan menyewakan fasilitasnya. Namun, integrasi (tidak harus merger) menjadi peluang untuk merasionalkan layanan telekomunikasi yang sudah menjadi kebutuhan dasar masyarakat.

 

Referensi : Kompas

Posting Komentar

Lebih baru Lebih lama